Pages

Senin, 05 November 2012

Kasih Yang Sempurna

Kasih Yang Sempurna


Nats Bacaan : 1Yoh 4:17-21

Setiap kali berhasil melakukan trik sulapnya, Demian, seorang ilusionis TV,  selalu menyatakan,”Sempurna! ”  Perkataan “sempurna” inilah yang dikritik oleh Yulia Rahman, sang istri, saat menghadapi sidang perceraian mereka. Dengan nada  gemas, Yulia Rahman, menyatakan, bahwa hidup adalah sebuah kenyataan riil yang harus dihadapi dengan dewasa. Masalah tidak akan selesai semudah menyelesaikan trik  sulap.

Kasih yang sempurna adalah kasih yang sudah terbukti,  kasih yang lengkap, kasih yang benar baik dihadapan Allah maupun dihadapan manusia. Sebaliknya, Kasih yang tidak sempurna adalah kasih yang tidak lengkap, tidak benar, tidak  terbukti baik dihadapan Allah maupun manusia.

Kasih yang sempurna adalah kasih yang telah teruji mampu menghadapi berbagai kesulitan, rintangan dan persoalan hidup yang ada. Kasih yang sempurna adalah kasih yang teruji tetap setia, tetap sungguh-sungguh, dan tetap bersama walau apapun yang sedang terjadi.  Kasih yang sempurna adalah kasih yang tak terpisahkan satu sama lain.

Pertanyaannya kemudian adalah sudahkah kita memiliki kasih yang sempurna itu didalam hidup kita? Kasih yang sempurna atau kasih yang tidak sempurnakah yang sedang atau sudah kita terapkan dalam hidup kita? Apa sajakah ciri-ciri kasih yang sempurna itu?

     1. Kasih Yang Mempercayai Hari Penghakiman (1 Yoh 4:17)
Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.  (1 Yoh 4:17)

Jika kita tidak mempercayai hari penghakiman, maka kasih Allah tidak menjadi sempurna di dalam kita. Sebaliknya, kasih Allah menjadi sempurna didalam kita, saat kita berani mempercayai kebenaran tentang adanya hari penghakiman. Apakah kita lebih suka memiliki kasih yang sempurna atau justru lebih memilih kasih yang tidak sempurna?

Kasih yang sempurna adalah mempercayai kepastian adanya hari penghakiman. Dan, saat kita percaya kebenaran ini maka kita juga sedang mempercayai kepastian keadilan Allah.  Ya, kepercayaan akan adanya hari penghakiman adalah kepercayaan yang mengimani adanya hukuman bagi pelanggaran dan hadiah bagi perbuatan yang memuliakan Allah.

Menurut Firman Tuhan, setiap orang yang percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadinya pasti selamat.  Pasti selamat berarti pasti masuk sorga! Sebaliknya, setiap orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus pasti tidak selamat. Pasti tidak selamat berarti masuk neraka! Setiap orang percaya yang hidup benar, kudus, sesuai Firman Tuhan masih mendapat pahala, upah dan mahkota.

Keadilan Manusia vs Keadilan Allah
Keadilan Allah adalah keadilan yang mutlak atau absolut. Sebaliknya, keadilan manusia adalah keadilan yang relatif.  Keadilan Allah adalah keadilan yang jelas, tidak ada tawar-menawar, dan tidak mungkin salah. Sementara, keadilan manusia belum tentu adalah keadilan yang benar dihadapan Allah. Keadilan manusia, seringkali, adalah keadilan yang bisa dibeli, bisa diatur, bisa diubah, dan bisa ditawar.

Keadilan manusia adalah keadilan yang bisa benar dan bisa salah. Sementara, keadilan Allah adalah keadilan yang tetap, pasti benar, dan tidak mungkin ada kesalahan, baik dalam prosesnya maupun dalam hasil akhirnya.

Dengan bahasa sederhana dapatlah dikatakan bahwa dalam perspektif Allah, benar adalah benar dan salah adalah salah! Bagi Allah, salah = salah, benar = benar. Implikasinya, setiap orang yang melakukan kebenaran yang sesuai dengan standar Allah dan  sesuai Firman Tuhan, maka pasti akan mendapat ganjaran yang lebih baik dari Allah sendiri. Sebaliknya, setiap orang yang melakukan kesalahan maka pasti akan mendapat hukuman yang setimpal dari Allah.

Kasih yang sempurna adalah kasih yang mempercayai kebenaran hari penghakiman! Dengan mempercayai adanya hari penghakiman maka kita  dimampukan untuk selalu mengikut Allah dengan sungguh-sungguh, membuat kita lebih bertanggungjawab atas hidup kita, dan membuat kita percaya keadilan Allah.

Rasul Petrus menuliskan dalam 1 Pet 4:17-19, ”Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.”

Setidaknya ada empat kebenaran yang menjadi kepastian mengenai penghakiman Allah. Pertama, Penghakiman dimulai sekarang ini.  Kedua, Penghakiman dimulai di rumah Allah sendiri. Ketiga, Penghakiman terjadi secara menyeluruh bagi manusia. Dan, keempat, Penghakiman menegaskan kita untuk bertanggungjawab atas hidup ini.

Renungan
Siap tidak siap, hari penghakiman pasti tiba dan terjadi. Percaya tidak percaya hari penghakiman itu pasti ada. Sudah siapkah kita mempertanggungjawabkan hidup kita dihadapan Tuhan? Sudahkah kita  berani mempercayai kebenaran hari penghakiman Allah  sehingga kasih Allah menjadi sempurna didalam hidup kita?

2. Kasih Yang Melenyapkan Ketakutan  (1Yoh 4:18)
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1Yoh 4:18)

Ketakutan mengandung hukuman. Ketakutan menunjukkan ketidaksempurnaan kasih didalam diri kita. Ketakutan hanya akan menambah masalah di dalam hidup kita. Ketakutan yang berlebihan justru membuktikan betapa kita tidak mengasihi Allah.  

Kontras dengan dampak ketakutan, kasih yang sempurna adalah kasih yang membuat kita berani menghadapi kenyataan hidup. Kasih yang sempurna adalah kasih yang memampukan kita untuk melewati berbagai persoalan hidup dengan gagah berani.

Makna kata melenyapkan adalah meniadakan, membuat tidak berdaya, menghilangkan, mengalahkan, menghancurkan, menghabiskan, mengatasi, menenggelamkan! Frasa kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan berarti bahwa kasih yang sempurna adalah kasih yang penuh kuasa, kasih yang berdampak, kasih yang dinamis, kasih yang penuh power!

Seseorang dengan kasih yang sempurna adalah pribadi yang memiliki kuasa untuk mengalahkan ketakutan yang ada didalam hidupnya. Seseorang yang memiliki kasih yang sempurna adalah pribadi yang tangguh dalam mengatasi berbagai permasalahan hidup yang ada.

Saya pernah mendengarkan lagu “Bapa Yang Kekal” dinyanyikan di sebuah acara pemakaman.  Saya sangat terharu sehingga tanpa terasa air mata saya menetes. Saya sendiri merasa kehilangan, karena almarhumah adalah teman baik anak saya. Ya, begitulah kasih yang sempurna itu. Kasih yang sempurna adalah kasih tanpa syarat. Kasih yang sempurna adalah kasih yang memampukan pihak keluarga melepas anaknya yang masih berumur sembilan tahun ke pangkuan Bapa.

Cara Menghadapi Batu Besar Rintangan Dalam Hidup Ini
Saya pernah membaca sebuah buku yang mengisahkan mengenai beberapa pilihan yang mungkin kita lakukan ketika batu besar kehidupan sedang merintangi jalan kita. Pada saat batu besar masalah sedang menutup jalan kita, pilihan apakah yang cenderung menjadi pilihan kita?

Ada orang yang ketika melihat batu besar masalah itu, memilih untuk berdoa dan menunggu sampai ada seseorang atau siapapun yang mau menyingkirkan batu besar itu dari hadapannya. Pilihan lainnya adalah meninggalkan batu besar itu untuk kemudian mundur mencari jalan lain.

Ada orang, yang ketika diperhadapkan pada batu besar masalah kehidupan ini, memilih untuk menyelidiki sisi kanan-sisi kiri, atas-bawah, siapa tahu ada kemungkinan jalan keluar di bagian itu. Jika ada celah dari bawah maka bisa dilakukan dengan menggali, bila ada celah dari atas  maka bisa diatasi dengan melompati batu rintangan itu.  Bila ada celah disalahsatu sisi maka celah itulah kemungkinan solusi jalan keluar.

Kemungkinan pilihan lainnya adalah dengan cara menghancurkan batu besar itu dengan segenap usaha dan daya. Siapa tahu, justru didalam batu besar itu terdapat bongkahan emas. Atau bisa jadi, disisi jalan setelah melewati batu besar itu ada berkat yang luar biasa.

Nah, pilihan jalan keluar yang manakah yang menjadi pilihan pribadi bagi anda ketika sedang menghadapi berbagai masalah dan beban berat?  Selama kita masih hidup selama itu pula masalah masih ada. Selama kita berani menghadapi masalah hidup maka selama itu pula ada resiko! Tetapi, dengar baik-baik, resiko tetap nyata, entahkah kita membiarkan masalah terjadi atau kita hadapi masalah itu. Namun, ketika kita menghadapi masalah dengan gagah berani tentu resiko berhasil menjadi lebih besar.

Kasih yang sempurna adalah kasih yang berani menghadapi masalah. Kasih yang sempurna adalah kasih yang berani mengatasi ketakutan. Kasih yang sempurna adalah kasih yang berani bekerja keras mengatasi rintangan hidup! Kasih yang sempurna adalah kasih Ora Et Labora. Bekerja sambil berdoa!

Pepatah mengatakan,”Berani karena Benar, Takut karena Salah.” Ketika kita takut menghadapi kehidupan kita, pada saat yang sama kita sedang melakukan kesalahan! Sebaliknya, pada saat kita berani menghadapi berbagai masalah, maka kita sedang melakukan kasih yang sempurna!

Renungan
Ketakutan apakah yang membuat anda cendnerung mundur, melarikan diri, merasa bersalah? Sudahkah kita berani mengatasi ketakutan itu dengan kasih Allah yang sempurna?

3. Kasih Yang Mengasihi Dalam Perbuatan (1 Yoh 4:19-21)
Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. (1 Yoh 4:19-21)

Kasih yang sempurna bukanlah kasih yang teoritis. Kasih yang sempurna buanlah kasih sekedar rangkaian kata cinta. Kasih yang sempurna bukanlah puisi cinta yang tanpa makna. Kasih yang sempurna bukanlah cinta rayuan gombal!

Kasih yang sempurna adalah kasih yang nyata. Kasih yang sempurna adalah kasih yang bertindak. Kasih yang sempurna adalah kasih yang terasa, teruji, terlihat, terasa, dan terbukti. Kasih yang sempurna adalah kasih yang hidup!

Kasih yang sempurna Itu dapat kita lakukan karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Kasih yang sempurna itu adalah kasih yang terwujud dengan cara mengasihi saudara yang terlihat.

Jika kita tidak mengasihi dalam perbuatan maka: kita tidak sempurna dalam kasih, kita adalah pendusta, dan kita sesungguhnya tidak mengasihi Allah. Mengapa? Karena seseorang yang membenci saudara yang dilihatnya, tidak mungkin bisa mengasihi Allah yang tidak bisa dilihat.

Jadi, wujud kasih yang sempurna itu sangat  jelas. Jika kita mengasihi saudara kita, maka pada saat yang bersamaan kita juga sedang mengasihi Allah. Sebaliknya, jika kita tidak bisa mengasihi saudara yang terlihat, maka kita juga tidak mengasihi Allah.

Prinsip ini sesuai dengan Firman Tuhan yang tertulis di 1 Kor 13:13, yang  menyatakan,” Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

Lebih mengasihi Atau Lebih Membenci?
Namun, jika harus jujur, dalam kehidupan keseharian, lebih sering mengampuni atau memarahikah kita? Lebih mudah manakah memaafkan atau mengeluh? Lebih sulit manakah mengasihi atau membenci?  Padahal, orang yang membenci, orang yang mengeluh, orang yang lebih mudah marah, justru, lebih menderita daripada yang lebih mudah mengampuni.  Orang yang lebih mudah memaafkan orang lain, dan diri sendiri justru lebih sehat daripada orang yang tidak mau memaafkan, tidak mau berdamai dengan diri sendiri dan tidak mau berdamai dengan sesama. Bahkan, orang yang mengasihi juga biasanya usianya lebih panjang daripada orang yang suka membenci!

Apa yang kita lakukan bagi Allah?
Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mat 25:40)  Kemudian, didalam kitab  Matius 25:45,” Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.”

Kasih yang sempurna adalah kasih yang terwujud dalam tindakan nyata. Kasih yang sempurna adalah kasih yang kita lakukan kepada saudara yang terlihat. Kasih yang sempurna adalah kasih yang diterima oleh Allah melalui perbuatan kita kepada saudara-saudara yang kita kasihi.

Renungan
Sudahkah kita mengasihi dalam perbuatan dan dalam kebenaran? Sudahkah kita punya tempat praktek kasih  sebagaimana praktik seorang dokter?

Penutup

Mari kita nyanyikan lagu,” Bapa Yang Kekal”

KASIH YANG SEMPURNA
TELAH KU TRIMA DARI-MU
BUKAN KARNA KEBAIKANKU
HANYA OLEH KASIH KARUNIA-MU
KAU PULIHKAN AKU, LAYAKKANKU
TUK DAPAT MEMANGGIL-MU, BAPA.....

KAU BRI YANG KU PINTA
SAAT KU MENCARI KU MENDAPATKAN
KU KETUK PINTU-MU
DAN KAU BUKAKAN
S’BAB KAU BAPAKU,
BAPA YANG KEKAL

TAK’KAN KAU BIARKAN
AKU MELANGKAH HANYA SENDIRIAN
KAU SELALU ADA BAGIKU
 S’BAB KAU BAPAKU, BAPA YANG KEKAL 

Saudara, kasih yang sempurna adalah kasih yang mempercayai hari penghakiman. Kasih yang sempurna adalah kasih yang melenyapkan ketakutan. Kasih yang sempurna adalah kasih yang mengasihi dalam perbuatan nyata. Tuhan Yesus memberkati kita semua, Amen! (Bertinus Sijabat - 4 Nopember 2012)



1 komentar:

nazareneshiloh mengatakan...

memang benar tanpa kasih, manusia tidak dapat berbuat sesuatu yang berharga

Poskan Komentar