Pages

Selasa, 25 September 2012

“Panggilan Melayani Tuhan Yang Meneguhkan”

“Panggilan Melayani Tuhan Yang Meneguhkan”

Nats Bacaan: Yer 1: 6-10



Pendahuluan

Pernahkah nama anda dipanggil karena keberhasilan dalam mencapai prestasi yang luar biasa? Pernahkah nama anda dipanggil karena telah melakukan kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan? Panggilan nama karena prestasi akan membuat kita merasa bangga, bahagia, dan merasa berharga. Sementara, panggilan nama karena kesalahan bisa membuat kita merasa kikuk, deg-degan, dan merasa takut.

Panggilan Tuhan pada Yeremia adalah panggilan yang menguatkan, meneguhkan, dan mengokohkan pelayanan Yeremia. Panggilan Tuhan ini adalah panggilan yang membuat Yeremia merasakan kekuatan baru, membuat Yeremia meyakini panggilan hidupnya, dan membuat Yeremia mampu melanjutkan pelayanannya.

Panggilan Tuhan kepada Yeremia adalah panggilan positif, yaitu panggilan Tuhan yang menunjukkan bahwa Yeremia adalah orang yang istimewa, berharga, berguna, dan diperhitungkan dalam penggenapan rencana Tuhan. Panggilan Tuhan kepada Yeremia bukanlah panggilan negatif yang menuntut pertanggungjawaban atas kesalahan yang telah diperbuat oleh Yeremia.

Bagaimana dengan panggilan Tuhan atau orang lain kepada kita, apakah panggilan itu adalah  panggilan positif karena karya, prestasi, dan keberadaan kita yang berarti bagi sesama? Atau, apakah panggilan itu lebih disebabkan oleh kegagalan, kesalahan, dan kelemahan kita? Panggilan Tuhan yang meneguhkan adalah panggilan yang membuat kita semakin bergairah dalam melayani Tuhan. Panggilan yang meneguhkan adalah panggilan yang membuat kita merasa mampu, sanggup, dan bisa melalui berbagai tantangan yang ada dengan penuh keyakinan kepada Tuhan.

Bagaimanakah ciri-ciri panggilan Tuhan yang meneguhkan itu? Hal-hal apakah yang membuat kita semakin teguh dalam melayani Tuhan? Hal-hal apakah yang membuat kita tahu bahwa Allah telah  memilih kita untuk melayani-Nya?

1.    Panggilan Yang Disertai Dengan Pengutusan (Yer 1:6-7)
Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. (Yer 1:6-7)

Secara logika, alasan Yeremia adalah alasan yang masuk akal, bisa dibenarkan, dan sangat jujur. Namun, alasan seperti ini  seringkali jadi alasan pembenaran bagi banyak orang untuk tidak melayani, tidak mau meresponi panggilan pelayanan, dan tidak terlibat dalam pelayanan.

Jika bagi manusia alasan ini adalah alasan yang baik, maka bagi Tuhan alasan ini adalah alasan yang sekedar dibuat-buat. Dan, Tuhan tidak mau mendengar alasan yang tidak masuk akal bagi-Nya! Faktanya, Tuhan langsung mengkonfrontir jawaban Yeremia dengan jawaban Tuhan yang penuh dengan ketegasan.

Bagi Tuhan, alasan masih muda bukanlah jawaban yang benar. Apalagi alasan tidak pandai berbicara, hal itu adalah alasan yang salah dihadapan Tuhan!

Memang, dalam hidup ini, seringkali orang lain tidak menghargai kita karena kita masih muda. Masih muda bisa berarti bahwa kita masih belum banyak pengalaman, masih belum dikenal dan mengenal orang lain, belum memiliki catatan prestasi yang luar biasa, pemula. Bahkan, muda bisa berarti: bahwa kita belum punya apa-apa, belum punya titel yang cukup, belum memiliki kekayaan, pelayanan masih awal-awal........! 

Seringkali, ketika mau melayani Tuhan, orang lain lebih tertarik dengan gelar theologia kita, seberapa banyak prestasi kita, seberapa hebat kita dalam hidup ini atau seberapa banyak jemaat dalam gereja kita. Hal inilah yang membuat alasan masih muda   menjadi tampak benar dihadapan manusia. Namun, ternyata dihadapan Tuhan, alasan masih muda bukanlah alasan yang benar.  

Dengan lantang, Rasul Paulus mengungkapkan,” Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1Tim 4:12).

Ketika Tuhan memanggil dan memilih kita untuk melayani-Nya, ada pengutusan yang jelas yang dinyatakannya kepada kita. Pertama, pengutusan dengan arah tujuan yang jelas. Pengutusan ini menyangkut kemana atau kepada siapa kita harus pergi. Kedua, pengutusan dengan pesan yang jelas. Pengutusan mengenai pesan yang harus kita sampaikan sesuai perintah Tuhan.

Ilustrasi Humor
Ketika ada acara wisuda disebuah sekolah theologia di Jakarta. Semua para wisudawan menyampaikan doa yang sungguh-sungguh ke hadapan Tuhan. Doa para wisudawan yang disampaikan didalam hati ini kurang lebih berbunyi seperti ini, “Tuhan, utuslah aku melayani Engkau, kemana saja Engkau mau, asalkan di daerah Jakarta.” Nah, jika doanya seperti ini berarti bukan doa pengutusan yang dikehendaki oleh Tuhan. Seharusnya, kemanapun dan dimanapun Tuhan mengutus maka kita harus pergi kesana. Hanya dengan cara mengikut dan mengiring Tuhan dengan sepenuh hatilah maka pelayanan kita semakin mempermuliakan nama Tuhan.

Renungan
Jika demikian, Sudahkah kita tahu arah tujuan perutusan Allah dalam hidup kita? Sudahkah kita melangkah ke dalam arah tujuan perutusan Allah didalam hidup kita?
Sudahkah kita menyampaikan pesan khusus yang ditaruh Allah didalam hati, pikiran, mulut kita?

2.    Panggilan Yang Disertai dengan Penyertaan Tuhan (Yer 1: 8)
“Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (Yer 1:8)
Ketika mengawali sebuah pekerjaan bisa saja kita: grogi, takut, ragu, tidak maksimal, gagal, gemetaran, dan ditertawakan oleh orang lain. Apalagi jika pekerjaan pelayanan itu adalah pekerjaan pelayanan yang sangat unik.

Pesan-pesan yang diberikan oleh Tuhan kepada Yeremia, bukanlah pesan-pesan yang enak didengar, pesan yang manis dicerna pikiran, atau pesan kabar baik. Keunikan pelayanan Yeremia adalah banyak diantara pesan yang disampaikannya adalah pesan yang menggentarkan hati, meremukkan semangat dan pesan yang menakutkan.

Nabi Yeremia mengungkapkan pergumulannya dalam melayani Tuhan di dalam kitab Yeremia 15:10 Celaka aku, ya ibuku, bahwa engkau melahirkan aku, seorang yang menjadi buah perbantahan dan buah percederaan bagi seluruh negeri. Aku bukan orang yang menghutangkan ataupun orang yang menghutang kepada siapapun, tetapi mereka semuanya mengutuki aku.” Kemudian, di Kitab Yeremia 20: 7-10, Nabi Yeremia juga menyatakan keadaannya.

20:7 Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku. 20:8 Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa berseru: "Kelaliman! Aniaya!" Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari. 20:9 Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup. 20:10 Aku telah mendengar bisikan banyak orang: "Kegentaran datang dari segala jurusan! Adukanlah dia! Kita mau mengadukan dia!" Semua orang sahabat karibku mengintai apakah aku tersandung jatuh: "Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk, sehingga kita dapat mengalahkan dia dan dapat melakukan pembalasan kita terhadap dia!"

Meski demikian, nabi Yeremia mendapat peneguhan dari Tuhan, bahwa apapun yang terjadi maka Tuhan selalu menyertainya. Penyertaan Tuhan inilah yang membuat Yeremia akan terlepas dari berbagai rintangan dalam pelayanannya. Begitupun dalam hidup kita, selama kita mendapat penyertaan dari Tuhan dalam melayani, maka kita percaya kita akan terlepas dari berbagai persoalan yang ada. Tidak mudah memang, namun janji penyertaan Tuhan itu pasti bagi hamba yang melayani-Nya dengan sungguh-sungguh. 

Pepatah China mengatakan: “perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah.” Begitu juga dalam pelayanan kita. Panggilan Tuhan adalah suatu hal, namun memulai ikut terjun dalam pelayanan adalah hal yang berbeda. Pertanyaannya kemudian adalah sudahkah kita berani ikut terlibat dalam melayani Tuhan?

Jika kita tidak pernah memulai, maka:
Kita tidak pernah tahu apakah kita bisa atau tidak dalam melayani.
Kita tidak pernah mencapai sesuatu yang maksimal dalam melayani.
Kita tidak akan pernah bertumbuh secara personal maupun dihadapan Allah.

Nabi Yeremia mendapat peneguhan dari Tuhan sehingga ia menjadi orang yang berani menghadapi rasa takutnya untuk memulai pelayanan. Nabi Yeremia memiliki keberanian yang luar biasa setelah ia mempercayai firman Tuhan yang disampaikan secara pribadi kepadanya.

Ilustrasi Kesaksian Iman
Seorang hamba Tuhan, saat memulai karir pelayanannya, diminta untuk mendoakan orang sakit di sebuah Rumah Sakit di kota Yogyakarta. Saat itu, hamba Tuhan ini masih kuliah di sebuah sekolah theologia. Setelah orang sakit ini didoakan, ternyata tidak lama kemudian, orang sakit ini meninggal dunia. Hamba Tuhan ini merasa gagal, tidak percaya diri dan tidak berani lagi mendoakan orang yang sakit. Dalam benaknya, hamba Tuhan ini tidak mau orang yang didoakannya akan meninggal dunia.    

Suatu waktu, setelah lama tidak mau mendoakan orang sakit langsung di Rumah Sakit, hamba Tuhan ini diminta untuk mendoakan orang yang sakit parah. Walau sebelumnya sudah tidak mau, tetapi karena orang yang sakit adalah orang dekat maka hamba Tuhan ini bersedia mendoakan di Rumah Sakit. Dan, luar biasanya, orang yang sebelumnya sudah diprediksi oleh dokter sebagai tidak mungkin pulih, ternyata orang ini malah sembuh secara mujizat setelah didoakan. Setelah itu, Tuhan malah memakai hamba Tuhan ini dalam berbagai pelayanan kesembuhan. Dahsyat, bukan? Ketika kita berani memulai pelayanan bersama Tuhan maka kehadiran Tuhan juga semakin nyata dalam pelayanan kita.

Firman Tuhan menegaskan, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1Yoh 4:18). Oleh karena itu, pertanyaan renungan bagi kita:
Sudahkah kita berani menanggapi panggilan Allah dengan memulai Pelayanan?
Sudahkah kita konsisten melayani Allah dalam setiap aspek dalam hidup kita?

3.    Panggilan Yang Disertai dengan Pemberian Otoritas (Yer 1:9-10)
Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: "Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.
Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam." (Yer 1:9-10)

Sebelum kita siap......
Sebelum kita merespon panggilan Allah dengan baik.......
Sebelum kita meng-iya-kan panggilan Allah secara pribadi.......
Maka Allah juga belum menyatakan OtoritasNya, Kuasa-Nya, jamahan-Nya secara Dahsyat!

Tuhan kita adalah Tuhan yang menghargai kehendak bebas manusia. Bagi Tuhan, manusia bukanlah robot yang sekedar menjalankan perintah apapun yang diberikan kepadanya. Dalam konteks panggilan Tuhan bagi Yeremia, Tuhan bahkan tidak memaksakan kehendak-Nya.

Pemberian otoritas Tuhan menjadi dahsyat didalam diri Yeremia, ketika Yeremia mengatakan “Yes” pada panggilan Tuhan. Baru setelah itu, maka:
Allah mengulurkan tangan-Nya.......
Allah menjamah mulut Yeremia.....
Allah memberikan otoritas kuasa-Nya kepada kita.........

Otoritas adalah kekuatan atau kekuasaan yang melekat didalam penugasan Tuhan dalam pelayanan kita. Otoritas ini dinyatakan Allah melalui apa yang bisa kita lakukan dengan pelayanan, apa yang harus kita kembangkan dalam pelayanan, dan apa yang menjadi keunggulan kita didalam pelayanan.

Ilustrasi Sederhana
Polisi lalu lintas yang berpakaian seragam, memiliki otoritas yang lebih di jalan raya, jika dibandingkan dengan seorang polisi yang berpakaian rapi tapi tanpa seragam kepolisian, walau sama-sama bertugas mengatur ketertiban lalu lintas. Ketika kita ada dirumah sakit, orang yang mengenakan seragam medis berwarna putih seringkali kita asosiasikan sebagai seorang dokter bukan? Padahal bisa jadi, ia adalah mahasiswa co-ass.

Ketika Tuhan memanggil Yeremia, Tuhan memberikan otoritas kuasa yang luar biasa:
Mencabut dan merobohkan........
Membinasakan dan meruntuhkan........
Membangun dan menanam....

Otoritas ini melekat kuat didalam pelayanan Yeremia. Otoritas kuasa ini adalah otoritas yang diberikan oleh Tuhan dalam pelayanan Yeremia. Begitu juga dalam hidup kita, setelah kita mengatakan “Yes” untuk melayani Tuhan, maka Tuhan juga memberikan otoritas kuasa dalam pelayanan kita. Ingat, sebelum Tuhan Yesus naik ke sorga, Tuhan Yesus mengatakan: “Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Mat 28:18). Baru setelah itu, Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:18)

Jadi, panggilan yang meneguhkan itu adalah panggilan yang disertai pemberian otoritas Tuhan didalamnya. Ada kekuasaan Tuhan yang dinyatakan melalui setiap penatalayanan kita. Ada mujizat, ada pertumbuhan, ada pertambahan, dan ada buah yang jelas didalam pelayanan kita. 

Ingatlah: Ada kekuatan ekstra Allah yang dinyatakan dalam setiap aspek didalam pelayanan kita karena ketaatan, kesungguhan, dan keberanian kita dalam meresponi pangggilan-Nya!

Penutup

Panggilan untuk melayani Tuhan adalah suatu panggilan yang bersifat pribadi. Panggilan melayani Tuhan yang meneguhkan adalah panggilan Tuhan yang membuat kita mampu dalam menghadapi berbagai rintangan dalam pelayanan.

Panggilan Tuhan yang meneguhkan adalah panggilan yang disertai dengan Pengutusan yang jelas, panggilan yang disertai dengan penyertaan Tuhan yang dahsyat, dan Panggilan yang disertai dengan Pemberian Otoritas kuasa Allah. Sudahkah kita meresponi panggilan Tuhan dalam pelayanan? Selamat Melayani.  Tuhan Yesus Memberkati, Amen! (Bertinus Sijabat-Yogyakarta, 23 September 2012). 

1 komentar:

herman jumaco mengatakan...

Terimakasih... saya sangat diberkati dan membantu saya dalam penulisan Skripsi th ini. GBU

Poskan Komentar